Malam punya kita

January 13th, 2008 by veveandini

Bertemu …

Bercerita tentang malam

Malamku dan malammu

Malam kita bersama Cinta

Different_names_by_brambura33

Candu

August 21st, 2007 by veveandini

Tidak !

          aku tidak bodoh

          aku juga tidak dudulz

          aku hanya sedang mati gaya

          Ya .. !

          mungkin karena aku sedang candu

          candu cucur !

 

Sudut Jakarta

Sejatinya Pecandu

PMS ? ……………. ( Duet me n gheta )

May 3rd, 2007 by veveandini

“Ta … kotak obat dimana ya ?”, setelah cukup lama mencari-cari mulai dari bawah kasur, di atas tumpukan baju, di meja makan, sampai di rak sepatu, akhirnya aku putuskan saja untuk bertanya dengan Tata.

“Kotak obat yang mana sih Vin ?” Tata menjawab dengan suara agak kesal sepertinya dia merasa terganggu dengan pertanyaanku. Padahal sakit ini sudah di ujung tanduk Tata malah pasang tampang jutek.

“Itu loh … yang kotaknya putih terus ada gambar plusnya warna merah, terakhir kan kemaren kamu yang pakai buat ngobatin anjing Si Rois yang keserempet motor mu” aku menjelaskannya dengan detail tentang kotak obat itu.

“Ooo .. kotak P3K? kayaknya ada di lemari depan deh Vin” akhirnya Tata menjawab dengan suara agak lembut, tapi tetap fokus pada buku didepannya.

“Duh kamu ya Ta, kluar deh o‘onnya! bedanya kotak P3K sama kotak obat apa coba?” sial nih anak malah bikin aku uring-uringan. Si Tata itu mata, mulut dan otaknya cuman bisa saling bekerjasama kalau ada cowok ganteng sama kalau lagi sibuk isi TTS.

Dan kalau sudah sore begini biasanya Tata suka sekali mengisi TTS, koleksi buku TTSnya juga sudah menumpuk di kamarnya.
Pernah aku bertanya sama Tata, “kenapa gak di buang saja buku TTS yang sudah selesai di isi”.
Tapi dengan santai dia malah menjawab “Jangan di buang, aku belinya pake uang, sayangkan ?”.
Huh … dasar Tata, dia memang temanku yang cantik, manis dan seksi pria mana yang tidak tertarik bila melihatnya. Tapi sayang, ada satu kelemahanya selain dia cantik, manis dan seksi, tapi dia juga jorok mungkin itu yang menyebabkan dia sampai sekarang belum juga memiliki pacar.

“Memangnya untuk apa sih kotak P3K itu ?”Ah … Tata ada-ada saja pertanyaanmu

“Ya .. buat cari obat lah Ta, masa buat cari lipstik sih”dengan sedikit kesal aku menjawab pertanyaan konyolnya.

“Hehehehe… iya aku lupa Vin, aku pikir kamu mau cari lipstik kamu yang hilang. Eh .. iya, tapi kayaknya stok obat sakit perut kita habis deh Vin” kini Tata, mulai tidak fokus dengan TTSnya.

“Aku bukan cari obat sakit perut, tapi aku cari obat sakit kepala” aku mencoba menjelaskan pada Tata.

“Obat sakit kepala? Yang sakit kepalamu Vin ?” Tata memperhatikan gelagatku.

“ho’oh, kepalaku yang sakit”.

Tata menggaruk-garuk kepalanya lalu turun bergerilya ke lubang hidung. Hehhehe … inilah salah satu bukti yang tadi aku bilang kalau temanku Tata, selain dia cantik, manis dan seksi tapi dia juga jorok.

“Kalau kepalamu yang sakit, kenapa sejak tadi perutmu yang kau pegang”. Tata tampak bingung melihat tingkahku yang aneh.

“hehehhe …. kepalaku memang sakit sekali Ta, tapi perutku juga mules” setelah aku mendapatkan obat yang aku cari, aku segera berlari ke ruang semedi alias WC.
Dan saat aku berlari melewati Tata “Priiettt…” udara yang keluar dari suatu tempat yang tersembunyi membuat gaduh.

“uuupsss !! maaf Ta, kelepasan”. Tata melemparku dengan bantal yang ada di sofa.

“Aseeeemmmm …. bau banget ! berapa hari gak kangen-kangenan ama WC sih Vin? bau banget!”
Dengan berlari kecil aku melihat Tata sibuk mengibas-ngibaskan buku TTS kesayangannya sampai lecek.

“Hirup sampai habis Ta…! ntar juga cepet hilang!” aku tertawa kecil sambil menahan rasa sakit

****

“Kepalamu masih sakit Vin ?”, Tata seperti khawatir dengan keadaanku. Satu lagi sifat Tata yang sangat aku suka, dia sangat perhatian dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Masih Ta, akhir-akhir ini kepalaku suka pusing”. Aku duduk di samping Tata yang masih asik dengan buku TTSnya. “Mau gak Ta ?”, aku menyodorkan snack yang tadi siang aku beli di toko depan gang.

“Vin, kamu kok jadi sering pusing begini sih, terus kamu juga doyan banget ngemil sekarang”. Tata meletakan buku TTSnya, kali ini dia fokus sekali berbicara denganku.

“Iya neh Ta, aku juga gak tahu kenapa. Eh .. iya Ta, berat badanku juga naik 2 kilo lho ?” aku menyeringai senang. Tapi Tata malah menatapku dan memperhatikan aku dengan pandangan aneh. Ia mengamati dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki untuk menemukan beberapa perubahan badanku.

“Iya Vin, badan kamu terlihat agak lebih berisi, pipi kamu juga tambah chubby, tuh kaki juga jadi bengkak”. Tata tertawa puas. Dia berhasil mengejekku dengen sebutan chubby. “Tapi Vin, kok tumben banget berat badanmu bisa naik 2 kilo”. Sepertinya Tata ragu dengan ucapanku tadi.

“Katanya uang kiriman dari kampung belum sampai? Kok kamu makmur gini sih??” Tata bertanya menyelidik. Sudah seperti detektif saja nih anak.

“Atau jangan-jangan lu…..” matanya sambil di putar- putar, mulai deh si Tata keluar pikiran liarnya.

“Kamu suka mual-mual gak Vin, pingin makan rujak gak ?” Tata mengejarku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dia seperti wartawan yang sedang mencari berita.

“Mual sih engga terlalu Ta, cuma aku pingin ngemil terus”. Entah ini sudah snack keberapa yang aku habiskan.

“Waduh Vin … jangan-jangan kamu ……, Kamu sudah diapain saja sama pacarmu itu ?”. Tata makin serius saja, dia duduk persis di bawah sofa yang aku duduki. Kalau sedang seperti ini Tata mirip Mbok Ijah, yang bekerja sebagai pembantu di rumah kost ini.

“Maksudmu, mas Andi Ta ? aku belum diapa-apain kok, aku kan baru pacaran 2 bulan sama dia, ya …. paling baru colak-colek saja” aku menjawab dengan gaya polosku.

“Wauuuuw…. Gilaa…. cowok macam apa ya mas Andimu itu Vin, baru colak-colek aja langsung tokcer?” Tata menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya dia kagum pada mas Andiku

“Tokcer bagaimana maksud kamu Ta ?” aku jadi penasaran dengan maksud ucapan Tata. Aku jadi ikutan duduk di bawah, sambil terus mengunyah snack yang ada di tanganku.

“Iya Vin, kamu sama si Andi baru 2 bulan pacaran, tapi sekarang kamu sudah suka sakit kepala, mual-mual dan di tambah lagi berat badanmu naik 2 kilo”. Tata menjelaskan sambil berlagak seperti dokter ahli.

“Bulan ini udah haid belum? Biasanya kan jangka waktunya deketan sama masa haidku ?”. Tanya Tata mengingatkan.

“Ehmm… kayaknya sih belum, padahal ini sudah waktunya ! Emang kamu sudah ?” Jawabku sembari berharap perkiraan Tata tadi salah.

“Ya… belum Vin, ini tanggal berapa? Maksudnya kan sudah mendekati masa itu nah kebetulan pembalutku sudah habis he….he..he…” jawabnya enteng

“Sialan… aku kirain.. !aduhhh kamu ya… aku dah dengerin serius malah bercanda…! nebeng mulu nih kerjaannnya! makanya uang kiriman jangan dihabisin buat beli TTS”, tambah uring-uringan aku dibuatnya. Sementara si Tata cekikikan sendiri.

****

“Eh.. kalian pernah pergi ke musholah bareng kan?” Tanya tata.
“Duh kamu nih ya, mbok ya kalau tanya yang bener saja, Ya jelas seringlah kan kita sering jalan bareng. Mas Andi kan sholatnya rajin gak pernah telat dan tidak pernah lewat, ya … jelas seringlah aku sama dia ke musholah!”, semakin sensi saja aku dibuatnya.
“Pertanyaan model apa lagi ini? apa hubungannya dengan sakitku?” batinku ngedumel sendiri.

Sakit dikepalaku semakin menjadi. Akh …!! apa sih yang sedang dipikirkan oleh Tata, dari tadi pertanyaanya bikin penasaran, berputar-putar seperti abang becak yang sedang mencari alamat rumah tapi gak ketemu-ketemu. Lebih baik aku diam saja membiarkan si Tata memutar otak untuk mengajukan pertanyaan lagi. Kuhabisakan snack yang sejak tadi hanya aku pegang demi mendengarkan Tata bicara.

“Vin, aku tau… aku tau…!”. Tiba tiba Tata berteriak girang

“Apaan Ta?” Dengan dingin aku menjawab

“Serius nih.. ! dengerin dong? Ini kan demi kamu Vin..! aku kan cuma ngebantu menganalisa penyakitmu sebisaku”. Rengeknya memohon perhatianku dengan tampang melasnya.

“Apaan sih Ta..?! duh kalau kali ini kamu gak serius juga! Aku tinggal kamu, aku mau semedi lagi ke WC”. Dengan sedikit mengancam aku mau memperhatikan Tata. Keringat dingin sudah semakin banyak. Tapi Tata masih asik dengan analisisa-analisisnya yang tidak masuk di akal.

“Iya iya… ! sabar dong… aku kan masih harus ngatur nafas dulu!”, dasar Tata masih bisa juga dia bersikap konyol. Sambil mengatur nafasnya pelan-pelan, kubiarkan saja makhluk cantik, manis, seksi nan aneh binti ajaib ini berlaku sesukanya..

“Aku tau, aku tau… kenapa Andi bisa tokcer gitu Vin!” Dengan semangat ‘45 Tata mulai mengungkapkan kesimpulan hasil analisisnya.

“Kamu… kamu …. Kamu waktu dimusholah pasti pernah tukeran sandal sama Andi?, atau bakiak yang dia pake untuk wudhu kamu pake juga ? Ya .. ya… ya… Pasti itu sebabnya, kenapa kamu akhir-akhir ini suka sakit kepala, sedikit mual, terus doyan ngemil, dan badanmu naik 2 kilo?” jelasnya dengan muka sumringah seperti habis mendapat undian togel.

“Dasar o’on tingkat tinggi!!! apa hubungannyaaaaaaa??” teriakku kesal

“Nih aku kasih DP yang mau aku setor di WC! BRuuuttttttt……!” saking kesalnya, tidak ada lagi basa-basi pada temanku yang satu itu.

“Kali ini hirup dalam-dalam ya Ta..!” sambil berlari kencang karena perutku sudah mengejang dan tidak bisa lagi diajak kompromi.

Dan sesampainya di kamar mandi aku malah cengar-cengir, ternyata sakitku karena PMS (apa ya kepanjangannya?). Pantas saja dari kemaren perut sakit, kepala juga pusing, dan nafsu makanku meningkat He..he..he..he..

“Enteng….!” dengan lega aku keluar kamar mandi.

Emak gak tau sih

April 22nd, 2007 by veveandini

Seperti biasanya, semenjak aku tidak bekerja di pabrik, setiap pagi aku membersihkan halaman rumah, dari mulai menyapu, merapikan rumput-rumputnya dan menyirami semua tanaman. Di desa ini aku tinggal bersama emak dan dua orang adikku, sementara bapak sudah lama meninggal karena penyakitnya. Emak hanya seorang pedagang sayuran di pasar, kedua adikku, Budi dan Ani mereka masih duduk di bangku SLTP. Rumah kami amat sangat sederhana, tapi kami mempunyai taman yang cukup terawat, di depan rumah ku tanami dengan beberapa macam jenis bunga, sementara di samping dan belakang rumah aku tanami dengan beberapa jenis tanaman buah dan sayur-sayuran.

“Nur, apa kamu benar-benar sudah tidak mau bekerja di pabriknya pak Samid ?”, tanya emakku saat kami berdua sedang duduk di teras rumah. Sesaat aku teringat kejadian seminggu yang lalu, saat itu pak Samid menyuruhku untuk datang keruangannya, dia bilang ada yang mau di bicarakan denganku, yah … sebagai seorang bawahan, aku turuti saja permintaanya tanpa menaruh curiga samasekali kepadanya. Dan malam itu aku datang ke ruangannya, pak Samid sangat ramah sekali dengaku. “Duduk Nur, santai sajalah gak usah tegang begitu”, dia mempersilahkanku duduk di sofa ruangan kerjanya, lalu aku pun duduk disana.

Hampir setengah jam aku berada di ruangan pak Samid. banyak juga yang kami bicarakan, mulai dari menanyakan kabar keluarga ku, sampai menanyakan hal-hal yang menyangkut pribadiku.
“Maaf pak, sebenarnya tujuan bapak memanggil saya ke sini apa ?”, aku coba beranikan diri untuk mengalihkan pembicaraan ini. Lalu pak Samid mendekati ku dan berdiri di belakangku. Aku menjadi risih dibuatnya. “Santai saja lah Nur, kamu gak usah tegang begitu di sini hanya ada kita berdua, jadi kamu tenang saja ya”, aku semakin ketakutan pak Samid menatapku dengan sorot matanya yang liar.

Aku masih berada di ruang kerja pak Samid, sekilas ku lihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 10 malam. Sementara pak Samid masih terus menatapku dengan sorot matanya yang seolah ingin menerkamku, aku sangat gugup aku takut semakin ia menatapku semakin aku salah tingkah. Pak Samid memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku, aarrggg .. !!! seragam ini membuatku semakin risih saja, seragam dengan kemeja lengan pendek dan rok hitam yang panjangnya hanya selutut, sehingga bila aku duduk, maka akan naiklah rok ini, aku semakin sibuk menutupi separuh pahaku.

“Maaf pak saya harus pulang, sudah larut malam saya takut Emak saya khawatir” akupun bergegas berdiri dan menuju pintu ruangan ini, pak Samid tidak menghalangi langkahku dia hanya tersenyum menatapku. “Hahahaha … Nur .. Nur, pintu itu sudah kukunci dan kau tidak akan bisa keluar tanpa kunci ini”, dia terus tertawa sambil memainkan kunci yang ada di tanganya. Aku semakin ketakutan aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ku. “Pak … saya mau pulang pak, izinkan saya keluar pak, saya mohon “, aku menangis aku mengiba padanya.

Pak samid mendekatiku, akupun semakin ketakutan, air mataku mengalir. Semakin aku ketakutan semakin senang pak Samid melihatku, lalu ia menarik tanganku, memeluku dengan erat hingga aku sulit bernapas dia mencubuku, dan aku mencoba melepasakan diriku dari pelukanya, tapi … gagal tubuh pak Samid jauh lebih besar dariku, aku tak kuasa melawannya. “Toloong … toooolllloooooong” aku teiak dengan sekencang-kencangnya, namun sia-sia sepertinya tidak ada yang mendengarku. “ssttt … jangan teriak Nur, disini hanya ada kita berdua, jadi lebih baik kau muruti saja semua kemaunku”. Pak Samid tertawa dengan amat keras dia seperti macan yang akan segera melahap habis mangsanya.
“Lepaskan saya pak, apa salah saya” aku terus berusaha berontak, aku menangis

“Toloong …. tooloong” suaraku terbenam pak Samid mencium bibirku, aku tak bisa teriak. Pak samid semakin garang, dia membuka kancing bajuku, “
“lepaskan saya pak .. lepaskan” pak samid hanya tertawa dia membuka celananya.
“Ampun pak .. apa salah saya” lalu pak Samid membuka pakaian dalamku, aku menangis. Pak Samid semakin liar memainkan buah dadaku.
“Tolong … toloooong” suaraku hampir habis, pak Samid berusaha membuka rok hitamku, dia menarik turun dalamanku. Bugil … aku sudah bugil sekarang.
Pak Samid, menghentikan aksinya, dan aku pikir dia iba melihatku, maka dengan sigap aku berlari menuju jendela ruangan pak Samid, namun sial .. jendela ini juga sudah di kuncinya.
Pak Samid hanya diam sambil metapaku yang berlari dengan bugil di ruangannya. Dan tiba-tiba pak Samid menarikku kembali dia menjatuhkanku di atas sofa ruang kerjanya.
“lepaskan saya … lepaskan .. !!” aku mencoba berontak, tapi gagal tenaga pak Samid cukup kuat.
“Diaaaaammm …” pak Samid mulai berbicara, dan akupun terdiam. Aku menahan rasa takut yang teramatsangat.
“Ampun pak, lepaskan saya, apa salah saya”, aku mengiba padanya “sstttt ….. diam”, hanya itu ucapanya. Aku hanya menangis, aku ingat emak.
Aku menangis, menangis tanpa henti aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa tubuh pak Samid sudah menghimpit tubuhku. Aku menahan rasa sakit ini, sakiiiiiit sekali.

“Nur … nur” , suara emak mengagetkanku. “Iya .. ada apa mak” aku gugup, tanpa sadar air mataku mengalir. “Kamu kenapa ndok, mak tanya kok malah melamun ?”, aku segera menghapus air mataku “Enggak mak, Nur tidak akan kerja di tempat pak Samid lagi, Nur mau membantu emak dagang sayur saja di pasar. Bolehkan mak ?” emak hanya tersenyum, dia mengusap kepalaku. “Tapi Nur pengasilan dari dagang sayur itu sedikit sekali tidak cukup untuk membiayai sekolah adik-adik mu”, sepertinya emak tidak setuju dengan ide ku tadi. Tetapi memang benar, penghasilan dari berdagang sayur hanya cukup untuk kami makan saja, sementara untuk keperluan adik-adiku sekolah mengandalkan dari penghasilanku bekerja di pabrik. “aaahhh … emak tidak tau si apa yang sudah aku alami” bisikku dalam hati.

Lonte ?

April 22nd, 2007 by veveandini

Lonte … dasar Lonte .. !!

lonte? apa sih itu, nama makanan, nama hewan, atau nama pangillan sayang ?

kok aku gak tau ya, aku baru dengar kata-kata Lonte.

L-o-n-t-e, aku dapat kata-kata ini dari ayahku, setelah mendengar aku tanya,
“Ayah … lonte itu apa sih ? nama makanan ya, enak gak rasanya ?” tapi ayahku malah membesarkan matanya lalu memandangku dan dia bilang ” kamu lonte, dasar anak lonte”

Anak lonte ? berarti ayahku juga Lonte ? aku kan anaknya ayah

” hei … pergi kau sekolah !! ” ayahku teriak membangunkan aku “aku bingung kok ayahku tidak memanggil aku denag sebutan lonte lagi ya ?
ah ..sudah lah, aku mandi dan memakai seragam sekolahku yang kusut, ya… selalu kusut, karena memeng tidak ada yang pernah menyetrikai, lalu aku membuka pintu, dan berjalan kesokolah.
tapi …. “hai Lonte … pulang sekolah kau,harus langsung pulang” wew ..kata-kata Lonte keluar lagi, aku jadi semakin penasaran apa sih artinya ?

Temanku sudah mulai banyak,aku anak baru di sekolah ini, ditengah lapangan ada segerombolan anak-anak, dan aku mencoba menghampiri mereka ” hai .. teman, di anatar kalian ada yang tau gak apa artinya l-o-n-t-e,” temanku menggeleng semua, lalu salah satu dari mereka nyeletuk, “lonte itu … itu tu nasi yang di bungkus daun” lalu sambil cemberut aku jawab .. ” yee ,, itu mah lontong … bego lo !! ”

Hari ini pelajaran bahasa Indonesia, ibu guru menyuruhku maju ke depan, dan memperkenalkan diri, lalu aku maju dan aku memberi salam kepada teman-teman dan ibu guru, lalu aku bilang, namaku Ririn, usiaku 6 tahun tapi belum genap, aku tinggal di Kampung kedondong, disana aku tinggal bersama ayahku, dan ayah sangat sayang padaku, karena sayangnya aku punya nama panggilan khusus dari ayah ” teman-teman mau tau gak siapa nama panggilan kesayanganku ” lalu teman-temanku menjawab dengan serempak …. MAUUUU ” aku nyengir .. teman-temanku lucu. Teman-teman nama panggilan kesayanganku adalah Lonte .. lalu aku tersenyum. dan kembali duduk di bangkuku, paling pojok belakang.

Aku duduk di depan ibu guru, tadi dia menyuruhku ke ruangannya. lalu ibu guru bertanya ” Ririn apa benar nama panggilanmu Lonte ” lalu aku tersenyum lalu ku jawab ” iya bu, ayahku selalu memanggil ku dengan sebutan Lonte, bagus ya bu, tapi aku gak tau artinya, apa ibu guru tau apa artinya Lonte ?” ihhh … ibu guru hanya tersenyum. waahh sekarang aku tau Lonte itu artinya senyum manis, habis ibu guru tidak menjawab, jadi aku ambil kesimpulan sendiri saja.

Aku pulang sendiri, teman-teman sudah pada sampe rumah, rumahku paling jauh, harus lewat kebon, terus lewat jembatan, baru deh sampe rumahku, tapi aku sudah terbiasa jalan seperti ini.
Eh ..iya td waktu lewat jembatan, aku ketemu kakak-kakak cantik deh, pake baju seksi banget, trus dia senyum sama aku, lalu aku bilang “ kakak Lonte” tapi dia malah marah lalu sambil melotot dia bilang “dasar anak kecil gak sopan” aku kaget “ kok kakak marah si, emang kakak lonte kok, aku juga lonte ( senyum manis ) lalu aku jalan lagi. Sambil jalan aku berpikir, kok kakak itu marah ya aku bilang lonte, padahalkan senyum dia memang manis banget, ibu guru aja kalah manisnya.

Firasat

March 6th, 2007 by veveandini

Anak-anakku masih sibuk merapikan peralatan sekolah meraka, karena beberapa hari lagi mereka sudah harus kembali ke sekolah. Sementara aku sedang asik duduk di ruang tamu, entah mengapa malan ini perasaan ku tidak enak sekali, rasanya aku selalu gelisah.

“ kakak, besok kita kerumah teman papa yang di Rawamangun ya, kita antar oleh-oleh ke sana “ .Oleh-oleh …. ya oleh-oleh, aku dan keluargaku beberapa hari yang lalu baru saja pulang dari kampung halaman. “ iya pa,” jawab anak sulungku, ah …!! anakku yang sulung itu, dia selalu mau mengantarku kemana saja, dan entah mengapa aku suka pergi jalan bersamanya, ya… mungkin karena dia tak serewel adiknya.

Siang itu, aku besiap-siap akan berangkat kerumah temanku, istriku sudah menyiapkan semua, menyiapkan oleh-oleh untuk temanku ku. “ Pa, kapan mo jalan ke tempat teman papa, kakak sudah siap nih”. Ah .. ! sulungku itu selalu saja begitu, dia senang sekali bila hendak ku ajak ke rumah temanku yang di Rawamangun sana, “ iya sebentar lagi kak, kita sholat Dzuhur di rumah dulu”.bungsuku masih asik mencoba tas barunya di ruang tengah, istri ku sedang menyiapkan makan siang untuk kami, sementara sulungku masih asik bersolek di depan cermin, sibuk mengepang rambutnya sendiri. Keluargaku adalah keluarga yang sangat sederhana, kami tinggal di rumah kontrakan, istriku hanya seorang ibu rumah tangga, ia ibu yang baik untuk kedua orang anakku. keluargaku memeng sederhana, tapi kami cukup bahagia.

Setelah sholat dzuhur dan makan siang bersama keluargaku, aku duduk sebentar di ruang depan,beristirahat sejenak sambil menurunkan makan siang ku, aku duduk sambil meluruskan kakiku ke meja yang berada di depanku, sambil menikmati rokokku, sejenak pikiranku melayang, aku mengandai-andai, “ ohh … ! tuhan rumah kontrakanku ini rapuh sekali, mungkin kalau ada angin besar atau api yang melahapnya,dengan seketika rumah kontrakanku ini akan lenyap.” ya jelas saja, kontrakan ini hanya terbuat dari batako yang hanya setengah, dan selebihnya menggunakan teriplek yang di cat putih. Lantainyapun hanya peluran biasa, bukan dari keramik atau ubin.

“ Hayoo .. papa melamun,” ah .. ! bungsuku menyadarkanku dari lamunan, “ papa coba liat baguskan seragam, sepatu dan tas barunya, adek pingin cepat-cepat masuk sekolah pa “ aku tersenyum melihatnya bungsuku ini memang lucu sekali, “ iya .. sayang kan senin nanti adek dah masuk sekolah lagi, tapi janji ya sekolahnya harus rajin, harus dapat nilai bagus, ok ? Dan sekarang buka seragamnya, dan simpan sepatu sama tas nya ya “ bungsuku langsung menarik maju bibirnya, ia cemberut lalu pergi dari hadapan ku.

“ Kakak …sudah siap belum? Ayo kita berangkat dah siang neh,” sugguh sulungku yang satu ini repot sekali bila hendak pergi, di usianya yang baru tujuh tahun, tapi dia sangat menjaga penampilannya, “ papa, aku mo bawa tas barunya boleh gak ? Sekalian di cobain pa, boleh ya ?” dia mulai banyak gaya, “ jangan sayang itu kan tasnya buat sekolah, nanti kotor, kakak gak usah bawa tas ya, kalaupun kakak mau bawa tas, pakai saja tas kakak yang lain yang lebih kecil” aku tertawa kecil sulungku merajuk.

Sepanjang perjalanan, sulungku hanya diam, mungkin dia masih ngambek, karena aku melarangnya memakai tas baru, tapi aku terus merayunya agar dia tak lagi merajuk. Setibanya di rumah temanku, sulungku baru mau tersenyum dan berbicara denganku. Lama juga aku main di rumah temanku, sulungku sudah mulai merengek minta pulang, dan lagi pula entah mengapa perasaanku tak enak sekali, lalu aku pamitan dengan temanku, lalu aku dan sulungku pamitan pulang.

Dalam perjalanan pulang, sungguh perasaanku tak enak sekali, dalam perjalanan aku hanya diam saja, dan sesekali menjawab keingintahuan sulungku. Tiba sudah aku dan sulungku di terminal Pasar Minggu, ku lihat jam di tangan sulungku, jarum jam baru munjukan jam 21:00, tapi mengapa angkot yang mengarah ke rumahku tak ada, cukup lama juga aku dan sulungku menunggu angkot, “ papa lama banget sih, angkotnya aku udah cape neh berdiri terus “ aku hanya tersenyum mendengar keluhan sulungku “sabar ya sayang“ lalu aku menuntun sulungku mencari tempat duduk, dan ternyata ada tempat di sana, di dekat pangkalan ojek itu.

Sulungku sudah mulai menguap, dan aku mengusap-usap kepalanya “ ngantuk ya ?, sabar ya sayang “ sulungku hanya diam saja. “ mau kemana pak, nunggu angkot apa ? “ pertanyaan itu cukup mengagetkan ku “ saya mau pulang pak, saya lagi nunggu angkot M 12 “ aku menjawab pertanyaan bapak itu, sepertinya bapak ini tukang ojek yang sedang mangkal. “ memang pulang nya kemana ? “ bapak itu bertanya lagi, “ saya pulang ke jalan Jambu pak “ kembali aku menjawab pertanyaan bapak itu, tapi ku lihat bapak ini sedikit terkejut lalu dia bilang “ jalan Jambu yang deket masjid ya pak ? Setahu saya di sana lagi ada kebakaran pak, rumah kontrakan yang terbakar, kalau tidak salah ada enam pintu rumah kontrakan yang terbakar, “ aku kaget sekali, jalan Jambu, rumah kontrakan enam pintu terbakar ? Masyaallah, Allahuakbar, Innalillahi …. jangan-jangan istanaku yang terbakar, “ pak tolong antar saya ke jalan Jambu”, lalu bergegas ku gendong sulungku yang sudah mulai tertidur.

Sampai sudah di jalan Jambu, ku bayar ongkos ojek, ku pegang dengan erat tangan sulungku, aku berjalan dengan cepat dan sedikit berlari, memasuki gang rumahku, sulungku hanya diam dan sedikit kesulitan mengikuti langkahku, “ papa nya Vina rumahnya terbakar “ tetanggaku depan gang memberi tahu, papanya Vina begitulah mereka menyapaku, Vina nama sulungku. Tak terlalu menghiraukan tetanggaku, aku makin cepat berjalan, sulungku hampir terjatuh karena kesulitan mengikuti irama langkah kakiku. Dan …. Ya Allah, Astagfirullah … rumah ku benar-benar terbakar, si jago merah sudah melahap istana kecilku, aku terjatuh, aku memeluk dengan erat sulungku, istrikuki di mana istri dan bungsungku ? “ papa nya vina, tadi saudaramu datang membawa istrimu dan bungsumu, jadi kau tenang aja, sabar ikhlaskan lah semuanya “ salah sorang tetanggaku menenangkanku. Aku menangis aku memeluk sulungku yang masih tak mengerti aku terus memeluknya dengan erat dan aku berbisik lirih “ sayang, rumah kita terbakar “.

MP tanpa rencana

March 6th, 2007 by veveandini

Suntuk sekali malam ini, aku masih duduk di sudut ruangan ini, duduk sensiri ditengah keramain club malam. Satu …. dua.. tiga gelas minuman sudah kuteguk tanpa sisa. Satu … dua.. tiga puntung rokok sudah ku hisap habis, dan ini entah puntung yang keberapa.

Aku di sudut, dan tak jauh di depan ku duduk seorang laki-laki paruh baya, dia di temani 2 orang gadis cantik, sepintas mereka terlihat seperti seorang ayah yang sedang duduk dengan anak-anak gadisnya, tapi kalau melihat gerakan tangan si pria paruh baya itu, dan tawa genit si gadis, mereka terlihat seperti sepasang kekasih, yang sedang di buru napsu, entah napsu apa ?

Di jarak beberapa meter dari tempatku, orang-orang masih asik berdisco ria, malam ini DJ memainkan musik yang cukup asik, aku ingin ikut serta, tubuhku serasa tegelitik mendengar musik yang di mainkan DJ itu, tapi aku sedang tak bersemangat malam ini.

Ku lihat kembali lelaki setengah baya yang tadi duduk di depan ku. Ah ….. mereaka sudah tidak ada disana, yang ada hanya tinggal botol-botol kosong,gelas setengah isi, dan puntung rokok yang masih mengepul asapnya, ku rasa mereka telah menemui kesepakatan, yup … sebuah kesepakatan untuk tidur bersama dan menikmati kenikmatan yang mereka ciptakan. Tapi ….. tunggu dulu si pria paruh baya tadi duduk dengan dua orang gadis, lalu .. apakah kedua gadis itu di bawa dengan pria paruh baya itu .. ? kalau memang iya … gila si Om, apa dia kuat ? Atau memang dia hyper, waduh di usianya yang sudah senja, bisa-bisanya mash melakukan kemaksiatan, sementara liang lahat sudah menunggunya. Om … om dia punya nak gadis gak ya ?, apa di benaknya tidak terlintas bayangan wajah anak-anaknya ?, sementara gadis-gadis itu, ya … gadis-gadis itu apa yang meraka cari, kepuasan,kenikmatan, atau uang ? Aku rasa semuanya. Gila …. !! ini benar-benar gila di usia yang masih belia melakukan perbuatan seperti itu, denga orang paruh baya pula. Sinting !! tap ini lah dunia, inilah kehidupan, apapun akan di lakukan demi kepuasan diri.

Aku masih disini, menikmati kesendiriankudi tengah keramaian ini, ku lirik benda yang melingkar di tangan kiri ku, ah …. malam sudah semakin larut, suasana club semakin panas, penari-penari itu mulai keluar, penari wanita dengan menggunakan pakaian yang sangat tipis, gerakan meraka sangat lincah, tubuhnya meliuk-liuk seperti ular yang sedang mencari mangsa, sementara para lelaki hidung belang itu menari-nari sambil mencoba menggapai si penari, seolah-olah mereka ingin sekali diterkam oleh sipenari. Kehidupan malam yang liar, di dalam sini, di club ini semua sibuk mencari kepuasan.

“ Malam cantik …… sendirian ? “
Dengan sedikit senyum pria itu meminta izin untuk duduk dekatku, dan tanpa ragu aku pun sedikit bergeser dari tempat ku.
“ silakan bangku ini kosong kok, silakan …. silakan … “
“terimakasih” lalu dia tersenyum lagi ke arah ku. Ah … pria seperti ini lah awalnya meraka manis dan ramah, tapi buntut-buntutnya … dia pasti punya maksud yang jelak, tapi entah bagaimana dengan pria ini, sudah lah aku tak perlu berburuk sangka.
“ iya aku sendiri .. jawab ku kamu ?” “ aku juga sendiri
“sepertinya musiknya asik, mau dansa dengan ku ?
Dansa …? sebenarnya malam ini mood ku sedang jelek, tapi tak apalah, cowok di sampingku lumayan tampan.“ok … tapi sebentar saja ya “

Kini aku sudah berada di lantai dansa, aku masik asik berdisco ria denagn pria itu, tanpa kusadari pria itu sudah melingkarkan tangan nya di pinggulku, dan gilanya aku tak menyingkirkan tangannya dari pinggulku, aku pun cukup menikmati dekapan nya. Aku tertawa dengan lepas, seakan lepas semua beban pikiran ku. Kini kami sudah duduk kembali di bangku kami.
“ mau tambah minum lagi ?” tanpa mendengarkan jawaban ku pria itu menuangkan minuman ke gelasku, tanpa ragu aku meneguk habis minuman ku.

Tak lama aku rasakan kepalaku berat sekali, sepertinya aku mulai mabuk, pandanganku kabur, gelap, seolah semua yang ku lihat menyatu, aaaccchhh .. pusing sekali dan dalam hitungan detik aku sudah tak sadarkan diri.

Uuuhh ….. kurasakan kepalaku berat sekali, tubuhku letih …. letih sekali, perlahan ku buka mata ini, aacchh …silaunya,rupanya matahari sudah menggantikan posisi sang bulan, tapi … tunggu di mana aku, kamar ku ? Kurasa bukan, kamar ku tak sebagus ini, aku mencoba bnagun dari tidurku, astaga .. ya tuhan ..!! kemana pakaianku ? Di mana aku ? Hah …. Darah, darah apa ini, tuhan apa yang terjadi. Dan sesaat aku mulai berpikir keras, memutar kembali memoriku, sambil berusah mengingat apa yang sudah terjadi. Darah itu …. dari mana asalnya…? dan … iihh … apa ini oh tuhan apa yang terjadi ?tubuh ku terasa letih, letih sekali tubuhku merinding, kepalaku sakit, pandangan ku gelap , tanpa sadar air mataku mulai menetes, aku menangis dan teriak …. BAJINGAN ..!!!

Aku dan Ayahku

March 6th, 2007 by veveandini

Hujan masih terus turun dari langit-Nya, ayahku belum juga pulang,aku sangat khawatir padanya. Ibu … ah ibuku malam ini mungkin dia tak akan pulang, pagi tadi dia ribut lagi sama ayahku, entah masalah apa lagi yang mereka ributkan, aku sendiri gak ngerti kenapa meraka mudah sekali untuk naik pitam, ada masalah sedikit pasti meraka perbesar, ribut di depan ku, terkadang aku stres sendiri melihat ulah meraka, ya … mungkin seperti itu lah kehidupan orang yang sudah berumah tangga. Aku juga gak ngerti

“Kakak, bangun sayang dah siang kamu harus sekolah kan?” Tanya ayahku, ah .. ayahku itu dia setia sekali menemaniku setiap malam nya dan membangunkan ku di pagi harinya, agar aku tak terlambat masuk sekolah.”Iya … yah”, semua sudah di siapkan seragam putih-merah ku lengkap dengan dasi dan topi nya.”Ayah … ibu gak pulang ya tadi malam? Memang kenapa lagi sih ? Ayah ribut lagi ya sama ibu ?” Ku serang ayah dengan semua pertanyaan ku, tapi ayah ku itu hanya tersenyum. Sudah habiskan dulu sarapan mu itu, sudah siang nanti kamu terlambat ke sekolah.

Seperti biasa ke sekolah aku selalu berangkat sendiri, tidak seperti kawan-kawan ku yang selalu ditemani ibu nya, pernah suatu hari aku bilang sama ibu, kalau aku juga ingin di temani saat ke sekolah, tapi ibu ku bilang, “sayang kamu sudah besar sudah masuk SD masa sih masih mau di temenin ke sekolahnya”.Dan pernah juga aku merengek kalau tak di antar aku tak kan pergi sekolah, tapi ibu ku malah marah-marah, dan pada akhirnya aku berangkat sendiri dengan mata ku yang berkaca-kaca.

Pulang sekolah, kembali aku sendiri berada di rumah, ayahku dia bekerja sebagai seorang supir taxi, dan pastinya jam–jam seperti ini dia tak mungkin pulang kerumah, karena dia pasti lebih mememilih berputar-putar di jalan sambil mencari penumpang, tapi tak jarang juga dia mampir sebentar ke rumah, untuk melihat ku, untuk memastikan apakah aku sudah pulang sekolah atau belum, dan biasa nya ayah sambil membawakan makan siang untuk ku, ayah bilang dia sangat khawatir denganku, padahal setiap harinya sudah ada yang mengurus ku jika ayah dan ibu ku bekerja, ayah membayar seorang tetanggaku untuk menjaga dan mengasuh ku sampai orang tua ku pulang bekerja, bahkan tak jarang ayah membawaku serta dalam bekerja, dia mengajak ku berkeliling sambil mencari penumpang, aku senang bila ayah ku mengajak ku jalan-jalan dengan taxi nya, meski tak jarang ada calon penumpang yang hendak naik taxi ayah ku, dan setelah melihat keberadaan ku di dalam taxi, penumpang tersebut akan mengurungkan niatnya,dengan alasan, penumpang tersebut, takut kalu aku ini anak yang di culik oleh supir taxi ini, meskipun ayah ku sudah memastikan kalau aku ini adalah anaknya. Bila sudah begitu aku suka sedih sendiri, sebab karena keberadaan ku, ayahku kehilangan penumpang nya, Tapi ayahku itu sangat sabar dengan senyumnya yang bijak, dia akan bilang, “tenang aja kak, mungkin itu bukan rejeki kita, nanti juga kita dapet penumpang yang lain”, jika ayahku sudah senyum, baru aku akan bisa ceria kembali, ku bilang dalam hati “ aku di sini menemani ayahku bekerja, jadi aku harus selalu senyum dan berdoa untuk ayahku, agar hari ini ia dapat penumpang yang banyak dan baik”.

Aku masih berada di dalam taxi ayahku, hari sudah malam, aku sudah sidikit mengantuk, tapi aku coba untuk tetap bertahan membuka mataku, karena aku tak ingin ayahku sendiri, aku ingin terus menemaninya. Kalau sudah berdua seperti ini dengan ayah, biasanya kami bercerita, menceritakan apa saja, dari mulai cerita di sekolah, ceritaku di ta’lim , cerita tentang kawan-kawan ku pokoknya apa saja, dan kadang juga aku dan ayahku merencanakan sesuatu, entah itu rencana kami ingin pulang ke kampung ayah, atau apa saja lah. Ayah … itu ada yang menyetop taxi kita, lalu dengan sigap dan ceria ayahku mengarah kan taxi nya ke calon penumpangnya.lalu tanpa banyak bertanya wanita itu masuk ke dalam taxi kami, lalu menyebutkan tempat yang ia tuju “cepat ya pak .. klo bisa ngebut aja deh .. !! baik non, aku hanya diam, lalu aku dan ayah ku saling berpandangan, lalu kami tersenyum. Dan wanita yang duduk di belang sebagai penumpang sepanjang jalan dia diam saja, dan seperti kelihatan cemas.

Ayahku mengerem Taxi nya, “ sudah sampai non. Ok terimakasih, pak sebentar ya, bapak tunggu di sani saja dulu, saya mau menemui teman saya, lalu untuk memastikan dia meninggalkan tas punggungnya di taxi ayah. “ pak argo nya tetap nyalakan saja. Nanti saya bayar, sebelum keluar wanita itu melirik ku dan melemparkan senyumannya ke arahku. “ oh …iya non, saya tunggu di sini.” ayah argo nya lumayan ya 50.000 ribu lebih aku tersenyum ceria. Ayahku pun tersenyum, lalu ia mengecup keningku.

Satu … jam sudah aku dan ayahku menunggu di taxi, tapi penumpang itu tak juga keluar dari club itu, jangan-jangan dia sudah mabuk sampai-sampai dia lupa, kalau dia punya janji untuk membayar argo taxi ayahku, ayahku sudah mulai cemas karena argo terus jalan, angka yang muncul semakin bertambah, aku jadi geram sendiri.” Ayah matikan saja argonya, lalu periksa saja tas itu, sapa tau dia meninggalkan uang di sana” lalu tanpa berpikir lagi, ayah langsung menggeledah tas itu, semua di bongkar semua isinya di keluarkan, tapi tak ada satu pun ada barang yang berharga, “ gak ada duitnya ya ..yah ?, lalu dengan napas panjang ayahku menggeleng, gak ada kak, isinya cuma sampah … .” hah .. apa yah, sampah ? Masa cewek cantik kayak gitu bawa – bawa sampah sih ?” ayahku hanya tersenyum dan membiarkan ku dalam kebingungan.

pergi !!!

February 23rd, 2007 by veveandini

Pergiii … maaf gw gak bisa bantu ..lo
kenapa harus selalu gw yg bantu lo
kenapa lo gak pernah bantu gw

pergiiii sana …. !!! pergiii

KoJaNg Mu

January 27th, 2007 by veveandini

tanggalkan semua pakaina mu
dan tinggalkan kojang mu ….. !!!!

dan kita lihat apakah kau masih punya kemaluan … ??!! upsss malu maksud gw
hohohohohohohohoho ……..